Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..[QS: 3:190]  







Pengingat Waktu

About Me
Nama asli saya mah Supriadi kelahiran Bogor Asli, sekarang dah punya istri 1 plus dikaruniai seorang anak putri
H i k m a h
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh kalian yang nyata. (Qs. al-Baqarah [2]: 208).
Allah SWT memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya, untuk mengambil seluruh ikatan dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya serta meninggalkan seluruh larangaNya, selagi mereka mampu.” (Imam Abu Al-Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 247).

Apabila kekuasaan terpisah dari agama, atau apabila agama terpisah dari kekuasaan, niscaya perkataan manusia akan rusak.” (Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, Majmu'ul Fatawa, jilid.28, hal. 394).
Al-Qur'an Online
Image hosted by Photobucket.com
Catatan Pengunjung

Jadwal Sholat
Link Islami
Syariah.org
Eramuslim.com
e-syariah.net
Harunyahya.com
ukhuwah.or.id
hayatulislam.net
swaramuslim.net
khilafah.com
islamonline.net
Buletin Studia
Musim Muda
Islam Muda
MuslimBlog

Jumlah Pengunjung
Anda Pengunjung ke:
Free Web Counter
Free Hit Counter
online

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Ternyata.....
Beristri itu menyenangkan

      Mahasuci Allah yaiig telah mengaruniai manusia rasa cinta dan kasih sayang sehingga manusia mampu memberikan dan menerima cinta. Tanpa cinta,hidup manusia bagaikan serpihan pasir di tanah kering nan tandus. Atau ruang angkasa yang indah namun hampa udara, tak dapat dinikmati orang yang hadir di tengah-tengahnya. Maka ber-untunglah mereka yang dapat memberikan dan merasakan cinta.
      Apakah ada orang yang tidak bisa merasakan cinta? "Ada," kata Ibnu Qayyirn. Takni orang-orang yang keras hatinya." Bagi orang-orang yang seperti demikian maka cinta dan rahmat Allah sudah tak dapat lagi menggemingkan hatinya
seperti demikian maka cinta dan rahmat Allah sudah tak dapat lagi menggemingkan.
      Merasakan cinta dan empati adalah nikmat dari Allah. Dunia medis modern ternyata menemukan sejumlah orang yang mengalami gangguan mental yang disebut aleksitimia (be rasa] daribahasa Yunani a- berartt "tidak", lexis berarti "kata" dan thymos berarti "emosi"). Penderita aleksitimia mengalami kesulit-an untuk membedakan berbagai emosi maupun membedakan antara rangsangan tubuh dan emosi. Bagi orang yang memiliki pasangan yang mengtdap penyakit ini akan merasakan seolah-olah pasangannya "tidak berperasaan"; sulit untuk berempati, merasakan cinta dan bersedih. Diduga hal ini disebabkan oleh putusnya hubungan antara sistem limbiks dengan neokorteks, terutama pusat-pusat verbal (Daniel Goldman, Emotional Intelligence). Bukankah ini sebuah penderitaan?

"Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang karnu dustakan?”
(TQS. ar Rahman [55]: 77)

      Salah satu bentuk cinta yang telah mengisi sejarah panjang kehidupan manusia adalah cinta kaum pria terhadap lawan jenisnya. Pria, dalam tradisi kehidupannya, hampir selalu berperan sebagai 'pemburu' cinta kaum wanita. Firman-Nya:

"Dijadikan    indah   pada    (pandangan) manusia    kecintaan    kepada    apa-apayang    diingini,    yaitu:    wanita-wanita, anak-anak ... " (TQS. All Imraan [3]: 14)

      Para pria memang digariskan untuk menjadi orang yang berperilaku aktif mencintai kaum wanita. Pria cenderung menjadi subyek ketimbang obyek. Berbagai macam cara dan apapun akan dilakukan dan dikorbankan oleh banyak pria untuk menarik perhatian dancinta wanita yang diidamkannya. Kebanyakan pria persis seperti yang tergambarkan dalam cerita-cerita romantis klasik; kesatria penunggang kuda berzirah besi yang datang membebaskan putri raja yang cantik jelita dari ancaman seekor naga raksasa.
      Itu bukanriya tidak bermanfaat. Dengan karakter yang demikian, secara naluriah pria akan tampil sebagai pelindung, pengayom dan pemimpin bagi keluarganya. fa akan bekerja mencari nafkah untuk kebahagiaan istri-istri dan anak-anaknya.


Kaum laki-laki itu adatah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menajkahkan sebagian dari harta mereka. “ (TQS, an-Nisaa' [4]: 34)



      Demi menumbuhkan cinta yang sehat bagi pria dan wanita, serta mencegah perilaku yang merusak makna cinta itu sendiri, Allah SWT. telah menurunkan seperangkat aturan yang komplit lagi sempurna. Allah tidakmenyengsar akan kaum pria dengan Ynemangkas' naluri mencintai wanita, atau membelsnggunya, tapi Allah yajig memang sang Pencipta kaum pria dan wanita, memberikan sejumlah etika yang mengatur kebutuhan naluriah dan biologis tersebut pada takaran yang sesuai. Sebagian berupa larangan, sebagian lagi berupa dorongan amaliyyah. Andaikan aturan ini tidak tercipta, niscaya spesies manusia terancam keberadaannya karena dilakukan bukan dengan tujuan yang ditetepkan Allah SWT., yakni guna melanggengkan keturunan. Bilapun bertahan spesies manusia akan mengalami kemunduran peradaban yang luar biasa. Pernahkan Anda mend en gar istilah orgy, incest, fedofilia, homoseks, sadomasochism? Atau yang penyim-pangan seksual yang 'sederhana1 semisal perzinahan dan perkosaan? Itu semua adalah lukisan nyata sebagian kehidupan rnanusia abad modern yang sebenarnya merupakan borok-borok peradaban yang diciptakan maiiusia. Buah tersisihkannya aturan Allah dari kehidupan Mahabenar Allah dengan segala firman- Nya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di   laut  disebabkan   karena  perbuatantangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembati (ke jalan yang benar)." (TQS. ar-Ruum [3O]: 41)


Siapa Istri Kita?

      Kelelakian yang ada pada kaum pria —dalam arti sikap dan perilaku- juga. tidak luput dari bidikan syari'at. Ego yang dimiliki para pria harus tunduk pada syari'at demi terwujudnya sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta) wa rahmah (kasih sayarig) bagi para pria dan pasangan hidupnya. Karena, acapkali pria salah dalam memperlakukan para wanita. Kita, kaum pria, seringkalimenganggap bahwa apa yang telah kita berikan telah aegala-galanya sehingga kita menuntut istri kita puas dengan apa yang telah kita berikan. Dan pada saat istri tidak mereponnya -atau justru merespon negatif--, maka sinyal negatif kita balas berikan pada sang istri. Padahal amat mungkin ada sesuatu yang salah dalam cara kita mencintai istri. Tapi, dengan jujur kita, kaum pria, harus mengakui naluri mempertahankan diri (self defense) yang kita miliki, atau apa yang biasa disebut ego, sering dikedepankan ketimbang akal sehat dan keikhlasan hab' untuk mencari cara yang lebih tepat untuk mencintai istri kita.

      Budi, ingin menyenangkan dan memanjakan istrinya, Mira. Maka pagi hari ia bangun lebih awal dari sang istri, mencuci piring, memasak air, dan menyiapkan sarapan bagi ia dan istrinya, Mira. Apa yang terjadi? Mira justru tersinggung. la merasa itu adalah intervensi atas perannya sebagai seorangistri. Andaikan Budi lidak pandai-pandai membaca situasi, bisa jadi kemarahan dan ketersinggungan Mira akan ia anggap sebagai sikap tidak menghargai "pengorbanan cinta' yang telah ia lakukan. Alih-alih berkomunikasi untuk melakukan perbaikan, Budi malah menganggap Mira sebagai istri yang sulit dimengerti dan sulit dicintai.

      Bana mencintai Fida. la selalu memberikan perlindungan pada gadis pujaanya. Bahkan sebenarnya ia kelewat protektif. Bana tidak segan-segan melabrak Fida bila ketahuan ia ngobrol dengan teman-teman prianya. Dan bila Ida berbuat kesalahan, Bana tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata kasarbahkan tamparan pada Fida. Namun Bana berbuat demikian karena merasa cinta harus seperti itu. la tidak sadar kalau ia telah amat posesif bahkan kasar pada Fida.

"Mukmin yang paling sempuma imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang terbaik di antara kalian adalah yang sebaik-baik perilakunya kepada istri-istrinya." (HR. Tirmidzi)


      Demikian juga tidak sedikit para suami yang menyangka bahwa semua wanita merasa senang pada harta. Akibatnya, banyak pria yang enggan memkahi wanita karena merasa belum cukup kaya. Realitanya, banyak pasangan yang bahagia pada saat hid up sederhana, tapi tak mampu merawat cin ta pada saat mereka hid up berkecukupan.

      Pada bagian inilah kita harus belajar dengan serius memahami karakter istri-istri kita. Tentu, secara asal istri kita adalah manusia seperti halnya diri kita. la memiliki kebutuhan jasadiyah dan naluriah. la juga memiliki akal dan perasaan. Hanya saja Allah SWT. telahmemberikan kelebihan pada kaum wanita pada perasaan. Kaum wanita memiliki perasaan dan intuisi yang lebih peka ketimbang para pria. Kaum lelaki dapat tidak mudah tersinggung, tapi wanita cepat merasakannya. Para suami kalah cepat dan kurang dalam untuk berempati pada perasaan seseorang, sementara kaum wanita dapat melakukannya dengan lebih baik. Banyak hal di mata pria dipandang sepele, tapi memiliki arti bagi kaum wanita. Hal inilah yang 'menyelamatkan' wanita untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Satu hal yang sulit -bahkan tidak mungkin-dijalankan sepenuhnya oleh para suami.

"Berpesan-pesan baiklah kalian terhadap kaum wanita, karena wanita itu dibuat dari tulang rusuk yang bengkok, maka kalau kaii paksa meluruskannya dengan kekerasan pasti patah, dan jika kail biarkan tentu tetapbengkok, karena itu berpesan-pesan baiklah terhadap wanita itu." (HR. Bukhari)


Mengapa Mencintai lstri Menyenangkan? 

Maka, apa yang tidak menyenangkan bagi para suami dalam mencintai istri-istri mereka? Sudahlah berpadu dengan tambatan hati, mendapat berkah dan pahala dari Allah pula..

      Ibadah adalah dasar dari hubungan suami-istri. Ketika dua hati berpaut dalam akad nikah, maka seketika ibadah akan dilaksanakan. Akad nikah sendiri oleh Allah SWT. dinamakan dengan perjanjian yang kuat. Akad nikah disetarakan dengan perjanjian antara Allah SWT. para nabi dan rasul-Nya (diantaranya dapat dilihat pada firman Allah QS an-Nisaa' 14) : 154 dan al-Ahzab [33] : 7. Firman-Nya:

"Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamuperjanjian yang kuat." (TQS. an-Nisaa' [4]: 21)

      
      Maka, apa yang tidak menyenangkan bagi para suami dalam mencintai istri-istri mereka? Sudahlah berpadu dengan tambatan hati, mendapat berkah dan pahala dari Allah pula.

"Para sahabat berkata,"Wahai Rasulullah, apakah apakah jika salah seorang di antara kami mengikuti syahwatnya, adakah ia mendapat pahala karenanya?" Rasufullah bersabda,"Tahukah kalian jika seseorang menumpahkan syahwatnya pada yang haram tidakkan ia berdosa? Maka demikian pula apabila ia menempatkan syahwatnya pada yang halal adalah pahala baginya. " (HR. Muslim)

     Beristri berarti menjadi pemimpin

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (TQS. an-Nisaa [4]: 34)


      Lelaki, dalam rumah tangga, adalah pemimpin istri dan anak-anaknya. Dalam pernikahan skill kepemimpinan para suami diuji oleh para istri dan anak-anaknya. Apakah ia akan menjadi pemimpin yang memiliki komitmen, pandai mengambil keputusan, mampu memberikan pengayoman dan perlindungan pad a istrinya.
      Ketika menikah, maka suamilah orang yang harus berada di gar da terdepan dalam melindungi keluarga, memberikan nafkah dan bimbingan pada anggota keluarganya. Menjadi pemimpin rumah tangga bukan saja membutuhkan ketegasan dan kedisiplinan, seperti mengajak beribadah, hidup sederhana dan rendah hati, tapi juga harus tnemiliki empati pada pasangan hidup. Bukan namanya pemimpin yang baik bila orang yang dipimpinnya lebih sering nierasa dieksploitasi dan dipaksa berbuat ketimbang dibuat gembira dan aman.

      Beristri menggiatkan mencari nafkah.

      Salah satu kewajiban para suami adalah rnenghidupi keluarga mereka. Bila semasa lajang eeorang pria bisa santai dalam mencari nafkah, maka sebagaisuami kehidupannya tercurah untuk menafkahi keluarga. Bila semasa lajang seorang lelaki menghabiskan seluruh uang untuk keperluan pribadi, kini saatnya berbagi dan berkorban bagi anak dan istri. Nikmatilah saat-saat kita membelanjakan atau menyerahkan seluruh harta kita untuk orang-orang yang kita cintai. Pandanglah mata binar dan dengarkan ucapan syukur istri kita pada saat kebutuhan hidupnya terpenuhi. Itu adalah sebagian kenikmatan yang Allah berikan pada kita sebagai suami, me ski kita mungkin tidak merasakan apa yang kita beri pada sang istri.

      Dan jangan lupa, orang lain menilai keberhasilan rumah tangga bukan dari sosok pribadi seorang suami atau istri, tapi secara keseluruhan; suami, istri dan anak. Orang akan berpikir bahwa kita bukan suami yang bertanggung jawab manakala istri kita n'dak terpenuhi kebutuhan-kebutuhan bidupnya, dan itu akan sangat jelas nampak!


      Beristri melembutkan sikap

      Kita, kaum lelaki adalah mahluk maskulin. Mudah bagi kita untuk tidak tersinggung, ceplas ceplos, bahkan beradu argumen secara keras dengan orang lain, atau bahkan membentak. Itulah yang tidak dimiliki istri-istri kita. Mereka jelas suka dan cinta bahwa kita macho dan maskulin, tegas dan memiliki komitmen, tapi mereka tidak suka kekasaran dan kekerasan. Dalam ucapan apalagi perilaku. Jangankan membentak, berkata dengan nada tinggi saja sudah bisa rnematahkan tulang rusuk' itu. Air matanya bisa meleleh kalau kita berkata sedikit keras pada mereka. Maka, bila kita serius dalam mencintai istri inilah saatnya melatih kelembutan sikap. Kenyataannya, menjadi lembut sama sekali tidak menurunkan derajat maskulinitas kita di hadapan istri kita. Justru menghangatkan cinta di aiitara kita. Berkata dengan nada rendah, memilih kata-kata halus, dan tidak cepat naik pitam pada saat beradu argumen dengannya, adalah bagian terbaik yang patut kita coba. Banyak pria yang otoriter di luar rumah, biasanya lebih otoriter di dalam rumah.

"Sesungguhnya orang beriman yong paling sempuma adatah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut pada kehtarganya." (HR. At Tirmidzi)


      Beristri berlatih menjadi pendengar

      Wanita itu adalah mahluk yang suka bercerita, atau dalain bahasa kaum pria adalah cerewet. Maka, menjadi suami yang baik bukan sekedar bisa menata dan mengatur istri, tapi juga mau mendengarkan istri- Apa yang ia kerjakan hari itu, kelakuan anak-anak kita, apa yang ia dengar dari obrolan teman-temannya di pasar, di blok rumah, atau mungkin di pengajian, dan yang paling penting adalah apa yang ia inginkan dari kita. Memang, bekerja sehariati di luar rumah adalah melelahkan, tapi sempatkanlah waktu sejenak -seperti sebelum tidur- untuk mendengarkan laporan harian' istri kita setiap harinya. Karena dengan mendengarkan cerita, siapapun -utamanya istri kita- akan merasa diperhatikan dan dicintai. Bukankah konsekuensi mencintai seseorang adalah mendengarkan juga keluhannya?


      Beristri melatih diri untuk empati

      Seorang ustadzah bertutur kalau para suami ‘hanya’ tahu yang enak-enak saja dalam rumah tangga. Para suami misalnya, tidak tahu letihnya mengurus anak, dsb. Ucapan ustadzah ini jelas bukan keluh kesah tanda tidak ikhlas, tapi menunjukkan mengurus rumah tangga bagi seorang istri itu tidaklah mudah. Melayani suami, mencuci baju, belanja ke pasar, mengatur menu, meriyiapkan makanan -yang barangkali sering kita kritik-, membersihkan rumah, mengatur anggaran belanja, dan berharap-harap cemas suaminya pulang dengan selamat ke rumah.

      Maka yang bisa kita katakaii adalah inilah saatnya bagi para pria untuk belajar berempati pada orang lain, khususnya istri. Para pria janganlah besar kepala dengan merasa bahwa mereka sudah bekerja keras membanting tulang untuk anak dan istri, dan menuntut pelayanan spesial dari istri pada saat mereka pulang ke rumah. Karena para istri bekerja jauh lebih keras dari yang sudah kita lakukan. Tidak percaya? Sekali waktu tinggallah sehari bersama istri, bantu dan amati pekerjaannya. Semestinya ucapan takjub subhanallah kita layangkan pada para istri di seluruh dunia atas kerja keras dan ikhlas mereka  untuk  memberikan yang terbaik pada kita dan anak-anaknya.

      Maka hilangkan marah dan benci bila suatu ketika istri lupa tidak memberikan pelayanan terbaiknya pada kita, karena bukankah istri kita juga manusia yang punya rasa lelah dan jenuh. Juga, belajarlah untuk mendengarkan keluhan dan omelan istri kita, karena ia ketika ia melakukan itu sebenamya ia tengah mencari dukungan, bantuan dan cinta dari kita. Amirul mukminin Umar bin Khaththab yang terkenal 'galak' masih mau mendengarkan keluhan dan omelan istrinya, karena ia ingin menjadi manusia yang bisa berempati pada orang lain.

      Beristri melatih kita untuk kian cinta dan romantis

        Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa tidak sedikit para suami -terutama yang telah larna menikah- tidak melakukan hal ini. Pikir kita, bukankah cinta tidak mesti diungkapkan dengan kata-kata dan diwujudkan dengan sesuatu. Itu memang benar. Kita tidak mengatakannya sejak awal nikah pun ia tahu kalau kita mencintainya. Tapi, bila kita mengharapkan cinta yang lebih hangat dan lebih baik maka lakukanlah hal-hal kecil yang 'menggairahkan'.

      Ingat kembali, kapan pertama kali bertemu menanyakan keseriusan istri membina bahtera keluarga, kapan dan dimana terakhir kali kita mengungkapkan cinta, kapan kita membuat surat cinta, dimana kita mengajaknya makan berdua di tempat kegemarannya, membelikan coklat, bakso, pecel lele atau makanan kegemarannya. Banyak para lajang yang melakukannya ketika sebelum nikah, pada masa khitbah, tapi tidak melakukannya lagi ketika telah menikah. Pertanyaan saya; mengapa kita tidak melakukannya lagi setelah menikah. Insya Allah, Allah akan memekarkan kembali dan semakin menampakkan nikmat dan indahnya cinta di tengah-tengah kita. [Ust. Iwan Janwar]

Kembali Ke Menu Utama


Posted at 09:20 am by PRAY
Comment (1)  

Next Page